Minggu, 12 Januari 2014

skripsi TGT



PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TGT
 (Team Games Tournament) TERHADAP PRESTASI BELAJAR
 FISIKA SISWA KELAS VIII SMPN 1 SAKRA
 TAHUN PELAJARAN 2012/2013


(Studi Kasus Materi Ajar Alat-alat Optik Siswa Kelas VIII SMPN 1 Sakra Tahun Pelajaran 2012/2013)

Oleh
MUSTIADI AKMAL
NPM. 08230122
Abstrak : Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen dengan desain faktorial 2 x 2  dengan  isi sel tidak sama.  Populasi adalah seluruh siswa kelas VIII SMPN 1 Sakra Tahun Pelajaran 2012/2013, sejumlah sembilan kelas yaitu kelas VIII.A sampai kelas VIII.I. Penentuan sampel menggunakan teknik cluster  random sampling  sejumlah dua kelas yaitu kelas VIII.I yang terdiri dari 30 siswa dan kelas VIII.B yang terdiri dari 35 siswa. Teknik pengumpulan data prestasi belajar fisika siswa pada pokok bahasan Alat-alat Optik yang digunakan adalah tes berupa pilihan ganda. Validitas instumen diuji dengan menggunakan korelasi Product-moment, sedangkan reliabilitas instumen dengan K-R 20. Uji normalitas digunakan Chi Kuadrat hitung (χ2hitung) = 3,301 dan uji homogenitas uji F = 1,13. Untuk uji hipotesis digunakan uji t.
Dari hasil analisis data didapatkan thitung = 3,49 sedangkan ttabel =1,999. Berdasarkan hasil analisis data tersebut dapat disimpulkan bahwa : terdapat pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe TGT (Team Game Tournament) terhadap  prestasi belajar fisika siswa kelas VIII SMPN 1 Sakra  tahun pelajaran 2012/2013.

Kata Kunci : Pembelajaran Kooperatif, tipe TGT (Team Game Tournament), dan Prestasi Belajar.

PENDAHULUAN
Didalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 dijelaskan tentang pendidikan merupakan usaha sadar dan berencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan oleh diri masyarakat, bangsa, dan Negara (Peraturan Menteri Pendidikan Nasional).
Dunia pendidikan saat ini tengah mengalami krisis yang cukup serius. Krisis ini tidak hanya disebabkan oleh Anggaran Pemerintah yang sangat rendah untuk membiayai kebutuhan vital dunia pendidikan kita, tetapi juga lemahnya tenaga ahli, dalam hal ini tentunya guru sebagai pihak yang bertanggung jawab untuk membimbing dan membina generasi penerus bangsa tidak mampu mengembangkan potensi Sumber Daya Manusia (SDM) siswa. Sehingga dengan permasalahan di atas akan muncul suatu konsep pendidikan yang telah tereduksi menjadi pengajaran lalu menyempit menjadi kegiatan di kelas. Sementara yang berlangsung di kelas tak lebih dari kegiatan guru mengajar murid dengan target kurikulum dan bagaimana mengejar nilai yang tinggi.
Melihat kenyataan itu, dunia pendidikan harus memberi perhatian pada aspek kultural dan ekologi yang dapat terlihat makna pembelajaran itu dalam keseharian siswa, terutama dalam penanaman pendidikan berkarakter yang menjadi tugas semua pihak, bukannya terfokus pada pengajaran kognitif dan pelatihan keterampilan tehnis. Dengan ungkapan lain salah satu agenda penting pendidikan di masa depan adalah bagaimana mengatasi krisis kemanusiaan termasuk persoalan krisis makna hidup dan salah satu masalah pendidikan yang dihadapi dunia pendidikan di Indonesia dewasa ini adalah lemahnya proses belajar mengajar. (Sukriadi, 2012:1).
Banyak kalangan pelajar menganggap belajar adalah aktivitas yang tidak menyenangkan, duduk berjam-jam dengan memberikan perhatian dan pikiran pada suatu pokok bahasan, baik yang sedang disampaikan guru maupun yang sedang dihadapi di meja belajar. Kegiatan itu hampir selalu dirasakan sebagai beban daripada upaya aktif untuk memperdalam ilmu.Mereka tidak menemukan kesadaran untuk mengerjakan seluruh tugas-tugas sekolah. Banyak di antara siswa yang menganggap, mengikuti pelajaran tidak lebih sekedar rutinitas untuk mengisi daftar absensi, mencari nilai, melewati jalan yang harus di tempuh, dan tanpa diiringi kesadaran untuk menambah wawasan ataupun mengasah keterampilan.
Menurunnya gairah belajar, selain disebabkan ketidaktepatan metodologis, juga berakar pada paradigma pendidikan konvensiaonal yang selalu menggunakan metode pengajaran klasikal dan ceramah, tanpa pernah diselingi berbagai metode yang menantang untuk berusaha. Termasuk adanya penyekat ruang struktural yang begitu tinggi antara guru dan siswa.
Dari hasil observasi awal yang telah peneliti lakukan di SMPN 1, mengungkapkan bahwa prestasi belajar siswa di SMPN 1 Sakra khususnya mata pelajaran Fisika masih rendah, hal ini disebabkan karena masih banyak siswa yang kurang memahami materi pelajaran yang diberikan. Hal ini juga terjadi karena masih banyak guru yang menggunakan metode klasikal dan ceramah sehingga siswa merasa bosan dan jenuh ketika menerima pelajaran. Metode yang digunakan sangat monoton tidak ada variasi menyebabkan siswa kurang berminat dalam mengikuti pelajaran. Sehingga prestasi akademik siswa tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Banyak siswa merasa mata pelajaran fisika adalah pelajaran yang paling membosankan dan menakutkan tetapi disini tugas guru untuk mengemas pelajaran fisika dengan sedemikian rupa sehingga siswa merasa tertantang untuk mempelajarinya. Ketika pembelajaran ceramah yang diterapkan guru pada materi alat-alat optik siswa tidak dapat menyelesaikan soal yang diberikan guru secara mandiri karena pembelajaraan masih berpusat pada guru.
Terungkap juga bahwa siswa masih kurang antusias, kurang motivasi serta ketuntasan belajar belum tercapai, hal ini bisa dilihat dari nilai fisika siswa SMPN 1 Sakra yang mendapatkan hasil yang kurang memuaskan ketika pelaksanaan ulangan, baik ulangan harian maupun ulangan semester yang nilai rata-ratanya dibawah KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) yakni 60, sedangkan KKM untuk mata pelajaran fisika adalah 70. Dan suatu kelas akan dikatakan tuntas belajar bila telah mencapai ketuntasan klasikal 85%. Kondisi pembelajaran Fisika yang demikian terjadi akibat permasalahan yang timbul dalam pembelajaran.
 Bertolak dari permasalahan di atas, guru sebagai penyelenggara kegiatan belajar harus dapat sedemikian rupa mengoptimalkan kegiatan belajar mengajar yaitu dengan cara memilih dan menggunakan model dan metode yang tepat dalam proses belajar mengajar, karena pemilihan model dan metode yang tepat dan sesuai tujuan pembelajaran akan membuat pengajaran menjadi bermakna.
Melihat kondisi di atas maka perlu dilakukan upaya-upaya dan terobosan baru dalam pembelajaran fisika di SMPN 1 Sakra, misalnya dengan menggunakan suatu model pembelajaran yang dapat menciptakan suasana belajar mengajar dan mampu memilih pendekatan untuk mengembangkan kreatifitas dalam menggunakan metode untuk menyampaikan materi. Karena itu diperlukan sebuah metode pembelajaran yang dapat menimbulkan minat dan motivasi siswa, serta berbagai strategi teknik penyelesaian untuk menyelesaikan masalah. Sehingga siswa dapat memperoleh manfaat yang maksimal, baik dari proses maupun hasil belajarnya.
Berdasarkan uraian dan data di atas maka perlu kiranya diadakan suatu penelitian untuk mencari alternatif pemecahan masalah pembelajaran khususnya pada mata pelajaran fisika. Adapun judul yang diangkat dalam penelitian ini adalah “Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TGT (Team Games Tournament) Terhadap Prestasi Belajar Fisika Siswa Kelas VIII SMPN 1 Sakra Tahun Pelajaran 2012/2013 .
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “adakah pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe TGT (Team Games Tournament) terhadap prestasi belajar fisika siswa kelas VIII SMPN 1 Sakra tahun pelajaran 2012/2013?” Sedangkan tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah “untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe TGT (Team Games Tournament) terhadap prestasi belajar fisika siswa kelas VIII SMPN 1 Sakra tahun pelajaran 2012/2013”.
Fisika merupakan bagian dari IPA yang menguraikan dengan menganalisis struktur peristiwa alam. Fisika dibangun atas dasar fakta atau kenyataan alam kemudian diteliti dan dipelajari dengan cara yang sesederhana mungkin yang akan menghasilkan aturan-aturan dan hukum-hukum.
Pembelajaran kooperatif (Slavin 1995: 73) merupakan strategi pembelajaran yang mendorong siswa bekerja sebagai sebuah tim untuk menyelesaikan sebuah masalah, menyelesaikan suatu tugas atau mengerjakan sesuatu untuk mencapai tujuan bersama lainnya
Teams-Games-Tournament (TGT), pada mulanya dikembangkan oleh David DeVries dan Keith Edwards, ini merupakan metode pembelajaran pertama dari Johns Hopkins. Dalam metode ini, para siswa dibagi dalam tim belajar yang terdiri atas empat sampai lima orang yang berbeda-beda tingkat kemampuan, jenis kelamin, dan latar belakang etniknya. Guru menyampaikan pelajaran, lalu siswa bekerja dalam tim mereka untuk memastikan bahwa semua anggota tim telah menguasai pelajaran. Selanjutnya diadakan turnamen, di mana siswa memainkan game akademik dengan anggota tim lain untuk menyumbangkan poin bagi skor timnya. TGT menambahkan dimensi kegembiraan yang diperoleh dari penggunaan permainan. Teman satu tim akan saling membantu dalam mempersiapkan diri untuk permainan dengan mempelajari lembar kegiatan dan menjelaskan masalah-masalah satu sama lain, memastikan telah terjadi tanggung jawab individual (Robert E. Slavin, 2008: 13).

METODE PENELITIAN
Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIII SMPN 1 Sakra Tahun Pelajaran 2012/2013 yang terdiri dari  rombongan belajar. Penelitian dilakukan terhadap sampel dengan tehnik sampling yang digunakan adalah Cluster Random Sampling, sedangkan sampel yang didapat adalah dua rombongan belajar(kelas) yaitu kelas VIII.B dan kelas VIII.I yang berjumlah 65 siswa.
Penelitian ini termasuk penelitian eksperimen karena pada penelitian ini, data yang akan diperoleh berbentuk angka. Pada penelitian  terdapat kelompok eksperimen dan kelompok kotrol dan penelitian ini  mengambil  satu  akibat  sebagai  variabel  terikat  dan  satu  penyebab  sebagai  satu  variabel  bebasnya.
Dilihat dari variabelnya, maka penelitian ini dikategorikan sebagai penelitian eksperimen jenis quasi experiment dengan desain post-test only control. Variabel penelitian pada penelitian ini variable bebasnya adalah model pembelajaran kooperatif tipe TGT dan variable terikatnya adalah prestasi belajar fisika.
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes, yaitu kemampuan menyelesaikan soal-soal baik yang diajarkan dengan metode pembelajaran kooperatif  TGT maupun dengan metode konvensional, dan bentuk tes yang digunakan adalah tes objektif (multiple choice).

HASIL PENELITIAN
Interprestasi hasil analisis (dengan taraf signifikan = 5%)
1.      Table Data hasil posttest

Table 1. Data Hasil Posttest
Kelas
Jumlah Siswa
Nilai Tertinggi
Nilai Terendah
Mean
 ( )
Standar Deviasi (SD)
Eksperimen
30
96
52
77
12,13
Kontrol
35
96
40
67,07
12,91

2.      Table Uji Normalitas
Table 2. UJi Normalitas
Kelas
χ2hitung
χ 2tabel
Kriteria
Eksperimen
3,301
9,483
Terdistribusi normal
Kontrol
3,32
11,070
Terdistribusi normal

3.      Berdasarkan data hasil perhitungan dipeoleh:F hitung = 1,13 dan F tabel = 1,85
jadi F hitung < F tabel
. Dari data yang diperoleh : data homogen
4.      Uji hipotesis yang di gunakan adalah dengan uji-t. berdasarkan analisis data didapat thiutng sebesar 3,49 sedangkan nilai ttabel  pada derajat kebebasan n1 + n2 - 2 = 30 + 35 = 63 diperoleh nilai sebesar 1,999. Karna thitung > tTabel  maka Ho ditolak dan Ha diterima. Artinya terdapat perbedaan prestasi siswa kelas eksperimen dengan siswa kelas kontrol, sehingga model pembelajaran kooperatif tipe Team Game Tournament (TGT) berpengaruh terhadap prestasi belajar fisika kelas VIII SMPN 1 Sakra tahun pelajaran 2012/2013.

PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil perhitungan analisis data yang sudah dilakukan diperoleh thiutng sebesar 3,49 sedangkan nilai ttabel  diperoleh nilai sebesar 1,999. Kriteria pengujian adalah jika thitung > tTabel  maka Ho ditolak dan Ha diterima artinya “terdapat pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe Team Game Tournament (TGT) terhadap prestasi belajar fisika kelas VIII SMPN 1 Sakra tahun pelajaran 2012/2013.
Dari hasil penelitian dan berdasarkan analisis data yang telah dilakukan menunjukkan bahwa terdapat pengaruh prestasi belajar siswa menggunakan metode kooperatif tipe Team Game Tournament (TGT) dibandingkan dengan metode konvensional. Hal ini dapat dilihat setelah melakukan uji hipotesis dengan rumus t-test terhadap data yang didapatkan setelah melakukan postest pada materi alat-alat optik yang diajarkan dengan menggunakan metode pembelajaran kooperatif tipe Team Game Tournament (TGT).
Team Game Tournament (TGT) merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang menekankan pada adanya aktivitas dan interaksi diantara siswa untuk saling memotivasi dan saling membantu dalam menguasai materi pelajaran guna mencapai prestasi yang maksimal. Pada model Team Game Tournament  (TGT) siswa diberikan kesempatan untuk berkomunikasi dan berinteraksi sosial dengan temannya untuk mencapai tujuan pembelajaran, sementara guru bertindak sebagai motivator dan fasilitator aktivitas siswa. Artinya dalam pembelajaran ini kegiatanPiaget yang menyatakan pengetahuan fisik dan pengetahuan logika matematika harus dibangun sendiri oleh anak, sedangkan pengetahuan sikap dan tingkah dapat dipindahkan dari pikiran guru ke pikiran siswa. Pendekatan ini bertolak belakang dari pandangan bahwa siswa sebagai subjek dan objek dalam belajar, mempunyai kemampuan dasar untuk berkembang secara optimal sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. Proses belajar dipandang sebagai stimulus yang dapat menantang siswa untuk melakukan kegiatan belajar. Peranan guru lebih banyak menempatkan diri sebagai pembimbing atau  pemimpin belajar dan fasilitator belajar. Dengan demikian, siswa lebih banyak melakukan kegiatan sendiri atau dalam bentuk kelompok memecahkan permasalahan dengan bimbingan guru, sehingga secara signifikan dalam mencapai keterampilan berpikir, pendekatan inquiri lebih efektif daripada metode konvensional.
Pada proses KBM dengan penggunaan metode Team Game Tournament (TGT) siswa SMPN 1 Sakra lebih aktif, lebih antusias dan bersemangat dalam belajar karena siswa dilibatkan langsung dalam proses pembelajaran tersebut. Siswa bekerja sebagai sebuah tim untuk menyelesaikan sebuah masalah, menyelesaikan suatu tugas atau mengerjakan sesuatu untuk mencapai tujuan bersama lainnya. Di samping itu siswa berusaha memahami dan menguasai materi yang sedang diajarkan dan selalu aktif ketika kerja kelompok, sehingga saat ditunjuk guru untuk mempresentasikan jawabanya, meraka dapat menyumbangkan skor untuk kelompoknya. Aktivitas ini sesuai dengan empat pilar pendidikan universal seperti yang dirumuskan UNESCO poin pertama, yaitu Learning to know atau learning to learn mengandung pengertian bahwa belajar itu pada dasarnya tidak hanya berorientasi kepada produk atau hasil belajar, akan tetapi juga harus berorientasi kepada proses belajar. Namun dengan metode TGT ini ada saja siswa yang tidak mudah memahami atau mengerti langkah-langkah kegiatan yang harus dilakukan dalam proses pembelajaran dengan metode TGT ini, sehingga cenderung membutuhkan waktu yang banyak.
Metode Team Games Tournament (TGT) memiliki langkah-langkah pembelajaran siswa harus berdiskusi. Melalui diskusi kecil dalam kelompok siswa saling bertukar pikiran dalam memecahkan permasalahan yang mereka belum pahami. Ketika siswa menerima pengetahuan dari teman mereka, maka setiap siswa akan berusaha untuk menyimpulkan pengetahuan tersebut menjadi pengetahuan baru yang sesuai dengan pemahaman mereka dan menjadi lebih bermakna. Hal ini sesuai sesuai dengan teori konstruktivisme dalam buku Sardiman (2011:38) yang mengatakan “belajar adalah kegiatan yang aktif dimana subjek membangun sendiri pengetahuannya dan mencari sendiri makna dari sesuatu yang mereka pelajari”.
Setiap kelompok memainkan game akademik yaitu cerdas cermat dengan kelompok lain untuk menyumbangkan poin bagi skor kelompok atau timnya. Kegiatan ini merupakan aplikasi hasil diskusi setiap kelompok. Pada waktu bermain game akademik setiap anggota kelompok diberikan kesempatan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang isinya relevan dan didesain oleh guru untuk menguji pengetahuan siswa dari penyajian materi dan diskusi kelompok. Menjawab pertanyaan merupakan suatu kegiatan yang melibatkan siswa secara aktif untuk menganalisis dan mengeksplorasi gagasan tentang gejala-gejala yang ada. Langkah ini akan menumbuhkembangkan kemampuan berpikir kritis siswa terhadap permasalahan yang ditemukan dalam proses pembelajaran. Hal ini sesuai dengan empat pilar pendidikan universal seperti yang dirumuskan UNESCO poin ke dua, yaitu Learning to do. Learning to do mengandung pengertian bahwa belajar itu bukan hanya sekedar mendengar dan melihat dengan tujuan akumulasi pengetahuan, tetapi belajar untuk berbuat dengan tujuan akhir penguasaan kompetensi.
Berbeda halnya dengan kelas yang penerapannya dengan menggunakan model pembelajaran konvensional, siswa terlihat kurang tertarik dan kurang bersemangat dalam belajar. Selain itu, siswa terlihat kurang aktif karena tidak ditemukan siswa yang antusias bertanya tentang materi pembelajaran. Penggunaan model pembelajaran konvensional guru lebih monoton.
Hal ini mengakibatkan pengetahuan yang dimiliki siswa akan terbatas pada apa yang diberikan guru. Dalam proses pembelajaran pun ditemukan beberapa siswa yang mengobrol dengan teman sebangku dan ada pula siswa yang mengganggu temannya sehingga proses belajar tidak efektif. Hal tersebut mengakibatkan siswa kurang dapat menangkap dan menerima materi yang diajarkan, sehingga berpengaruh pada hasil belajar yang kurang maksimal.
Sesuai dengan hasil uji hipotesis yang telah disajikan di atas ternyata model pembelajaran kooperatif tipe TGT berpengaruh terhadap prestasi belajar fisika siswa, artinya hipotesis yang diajukan pada bab II didukung oleh data-data yang ada.


SIMPULAN DAN SARAN
Dari hasil perhitungan analisis data yang telah dilakukan didapatkan thitung>ttabel yaitu thitung =  3,49 sedangkan ttabel  = 1,999. Kriteria pengujian adalah jika thitung < tTabel  maka Ho diterima dan Ha ditolak. Artinya terdapat pengaruh penggunaan metode pembelajaran kooperatif tipe Team Games Tournament (TGT) terhadap prestasi belajar fisika siswa kelas VIII SMPN 1 Sakra tahun Pelajaran 2012/2013 pada materi alat-alat optik diterima. Hal ini karena siswa dituntut untuk benar-benar siap dalam menerima dan menjawab pertanyaan dari turnamen akademik yang dimainkan seluruh siswa, selain itu model pembelajaran kooperatif tipe Team Games Tournament (TGT) membuat suasana di kelas menjadi seru dan menyenangkan sehingga siswa termotivasi untuk belajar.
Berdasarkan hasil yang diperoleh dari penelitian ini, diajukan beberapa saran sebagai berikut :
1.      Bagi siswa disarankan supaya dalam proses pembelajaran lebih serius dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya agar prestasi belajar yang diperoleh optimal.
2.      Bagi guru disarankan supaya lebih kreatif dalam menciptakan maupun mengembangkan model, metode, maupun teknik mengajar supaya siswa menjadi termotivasi dan aktif dalam belajar.
Bagi para pembaca yang ingin menggunakan/menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Team Games Tournament (TGT) ini dalam penelitian maupun dalam proses pembelajaran disekolah, agar mempersiapkan diri sebaik mungkin dari segala segi supaya hasil yang diperoleh bisa optimal demi perbaikan dimasa mendatang.




DAFTAR PUSTAKA
 Ahmad Tohri dan Ridwan Markarma. 2007. Belajar dan Pembelajaran. Pancor: STKIP HAMZANWADI Selong.

Ahmad Zaelani, dkk. 2006. 1700 Bank Soal Bimbingan Pemantapan Fisika. Bandung: Yrama Widya.

Aqib, Zaenal. 2002. Profesionalisme Guru Dalam Pembelajaran. Surabaya:Insan Cendekia.

Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian. Jakarta:Pt. Asdi Mahasatya.
                                 . 2010. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta:Bumi Aksara.
Istiyono, Edi. 2004. Sains Fisika. Klaten: Intan Pariwara.
Saeful karim, dkk. 2008. Belajar IPA Membuka Cakrawala Alam Sekitar 2. Jakarta : PT. Macanan Jaya Cemerlang
Slavin, Robert E. 2008. Cooperative leaning. Bandung: Nusa Media.
Sugiyono, 2007. Statistik Untuk Penelitian. Bandung:CV. Alfabeta.
                , 2009. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif Dan R&D. Bandung:CV. Alfabeta

Sukidin, Dkk. 2007. Manajemen Penelitian Tindakan Kelas. Surabaya:Insan  Cendekia .

Sukriadi. 2012. Proposal Penelitian. Selong Lombok Timur.
Tim penyusun. 2011. Simpati SMA. Surakarta :Grabadi.
Tsamarul Hizbi, dkk. 2011. Panduan Penulisan Skripsi. Selong: STKIP HAMZANWADI Selong.
Wiranata, Indra. 2010. Skripsi Pendidiksn Fisika, (Online). (http://www.eprink.uns.ac.id, diakses 2 April 2012)