PENGARUH
MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TGT
(Team
Games Tournament) TERHADAP PRESTASI BELAJAR
FISIKA SISWA KELAS VIII SMPN 1 SAKRA
TAHUN PELAJARAN 2012/2013
(Studi
Kasus Materi Ajar Alat-alat Optik Siswa Kelas VIII SMPN 1 Sakra Tahun Pelajaran
2012/2013)
Oleh
MUSTIADI AKMAL
NPM. 08230122
Abstrak : Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen dengan
desain faktorial 2 x 2 dengan isi sel tidak sama. Populasi
adalah seluruh siswa kelas
VIII SMPN 1 Sakra Tahun Pelajaran 2012/2013, sejumlah sembilan kelas
yaitu kelas VIII.A sampai kelas VIII.I. Penentuan sampel menggunakan teknik cluster random sampling sejumlah dua kelas yaitu kelas VIII.I yang terdiri dari 30 siswa dan kelas VIII.B yang terdiri dari 35
siswa. Teknik pengumpulan data prestasi belajar fisika siswa pada pokok bahasan
Alat-alat Optik yang digunakan
adalah tes berupa pilihan ganda. Validitas instumen diuji dengan menggunakan korelasi Product-moment, sedangkan reliabilitas instumen dengan K-R 20. Uji
normalitas digunakan Chi Kuadrat hitung (χ2hitung)
= 3,301 dan uji homogenitas uji F = 1,13. Untuk uji hipotesis digunakan uji t.
Dari hasil analisis data didapatkan thitung = 3,49 sedangkan ttabel =1,999. Berdasarkan hasil
analisis data tersebut dapat disimpulkan bahwa : terdapat pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe TGT (Team
Game Tournament) terhadap
prestasi belajar
fisika siswa kelas VIII SMPN
1 Sakra tahun pelajaran 2012/2013.
Kata Kunci :
Pembelajaran Kooperatif, tipe TGT (Team
Game Tournament), dan Prestasi Belajar.
PENDAHULUAN
Didalam Undang-Undang Nomor 20
Tahun 2003 dijelaskan tentang pendidikan merupakan usaha sadar dan berencana
untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik
secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual
keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta
keterampilan yang diperlukan oleh diri masyarakat, bangsa, dan Negara
(Peraturan Menteri Pendidikan Nasional).
Dunia
pendidikan saat ini tengah mengalami krisis yang cukup serius. Krisis ini tidak
hanya disebabkan oleh Anggaran Pemerintah yang sangat rendah untuk membiayai
kebutuhan vital dunia pendidikan kita, tetapi juga lemahnya tenaga ahli, dalam
hal ini tentunya guru sebagai pihak yang bertanggung jawab untuk membimbing dan
membina generasi penerus bangsa tidak mampu mengembangkan potensi Sumber Daya
Manusia (SDM) siswa. Sehingga dengan permasalahan di atas akan muncul suatu
konsep pendidikan yang telah tereduksi menjadi pengajaran lalu menyempit
menjadi kegiatan di kelas. Sementara yang berlangsung di kelas tak lebih dari
kegiatan guru mengajar murid dengan target kurikulum dan bagaimana mengejar
nilai yang tinggi.
Melihat
kenyataan itu, dunia pendidikan harus memberi perhatian pada aspek kultural dan
ekologi yang dapat terlihat makna pembelajaran itu dalam keseharian siswa,
terutama dalam penanaman pendidikan berkarakter yang menjadi tugas semua pihak,
bukannya terfokus pada pengajaran kognitif dan pelatihan keterampilan tehnis.
Dengan ungkapan lain salah satu agenda penting pendidikan di masa depan adalah
bagaimana mengatasi krisis kemanusiaan termasuk persoalan krisis makna hidup
dan salah satu masalah pendidikan yang dihadapi dunia pendidikan di Indonesia
dewasa ini adalah lemahnya proses belajar mengajar. (Sukriadi, 2012:1).
Banyak kalangan
pelajar menganggap belajar adalah aktivitas yang tidak menyenangkan, duduk
berjam-jam dengan memberikan perhatian dan pikiran pada suatu pokok bahasan,
baik yang sedang disampaikan guru maupun yang sedang dihadapi di meja belajar.
Kegiatan itu hampir selalu dirasakan sebagai beban daripada upaya aktif untuk
memperdalam ilmu.Mereka tidak menemukan kesadaran untuk mengerjakan seluruh
tugas-tugas sekolah. Banyak di antara siswa yang menganggap, mengikuti pelajaran
tidak lebih sekedar rutinitas untuk mengisi daftar absensi, mencari nilai,
melewati jalan yang harus di tempuh, dan tanpa diiringi kesadaran untuk
menambah wawasan ataupun mengasah keterampilan.
Menurunnya gairah
belajar, selain disebabkan ketidaktepatan metodologis,
juga berakar pada paradigma pendidikan konvensiaonal yang selalu menggunakan
metode pengajaran klasikal dan ceramah, tanpa pernah diselingi berbagai metode
yang menantang untuk berusaha. Termasuk adanya penyekat ruang struktural yang
begitu tinggi antara guru dan siswa.
Dari hasil observasi awal yang telah peneliti lakukan
di SMPN 1, mengungkapkan bahwa prestasi belajar siswa di SMPN 1 Sakra khususnya
mata pelajaran Fisika masih rendah, hal ini disebabkan karena masih banyak
siswa yang kurang memahami materi pelajaran yang diberikan. Hal ini juga
terjadi karena masih banyak guru yang menggunakan metode klasikal dan ceramah
sehingga siswa merasa bosan dan jenuh ketika menerima pelajaran. Metode yang
digunakan sangat monoton tidak ada variasi menyebabkan siswa kurang berminat
dalam mengikuti pelajaran. Sehingga prestasi akademik siswa tidak sesuai dengan
apa yang diharapkan. Banyak siswa merasa mata pelajaran fisika adalah pelajaran
yang paling membosankan dan menakutkan tetapi disini tugas guru untuk mengemas
pelajaran fisika dengan sedemikian rupa sehingga siswa merasa tertantang untuk
mempelajarinya. Ketika pembelajaran ceramah yang diterapkan guru pada materi alat-alat
optik siswa tidak dapat menyelesaikan soal yang diberikan guru secara mandiri
karena pembelajaraan masih berpusat pada guru.
Terungkap juga bahwa siswa masih kurang antusias, kurang motivasi serta ketuntasan belajar belum tercapai, hal ini bisa
dilihat dari nilai fisika siswa SMPN 1 Sakra yang mendapatkan hasil yang
kurang memuaskan ketika pelaksanaan ulangan, baik ulangan harian maupun ulangan
semester yang nilai rata-ratanya dibawah KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal)
yakni 60, sedangkan KKM untuk mata pelajaran fisika adalah 70. Dan suatu kelas akan dikatakan tuntas belajar bila telah mencapai
ketuntasan klasikal 85%.
Kondisi pembelajaran Fisika yang demikian terjadi akibat permasalahan yang
timbul dalam pembelajaran.
Bertolak dari
permasalahan di atas, guru sebagai penyelenggara kegiatan belajar harus dapat
sedemikian rupa mengoptimalkan kegiatan belajar mengajar yaitu dengan cara
memilih dan menggunakan model dan metode yang tepat dalam proses belajar
mengajar, karena pemilihan model dan metode yang tepat dan sesuai tujuan
pembelajaran akan membuat pengajaran menjadi bermakna.
Melihat kondisi di atas maka perlu dilakukan
upaya-upaya dan terobosan baru dalam
pembelajaran fisika di SMPN 1 Sakra, misalnya dengan menggunakan suatu model
pembelajaran yang dapat menciptakan suasana belajar mengajar dan mampu memilih
pendekatan untuk mengembangkan kreatifitas dalam menggunakan metode untuk
menyampaikan materi. Karena itu diperlukan sebuah metode pembelajaran yang
dapat menimbulkan minat dan motivasi siswa, serta berbagai strategi teknik
penyelesaian untuk menyelesaikan masalah. Sehingga siswa dapat memperoleh
manfaat yang maksimal, baik dari proses maupun hasil belajarnya.
Berdasarkan
uraian dan data di atas maka perlu kiranya diadakan suatu penelitian untuk
mencari alternatif pemecahan masalah pembelajaran khususnya pada mata pelajaran
fisika. Adapun judul yang diangkat dalam penelitian ini adalah “Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif
Tipe TGT (Team Games Tournament)
Terhadap Prestasi Belajar Fisika Siswa Kelas VIII SMPN 1 Sakra Tahun Pelajaran
2012/2013 ”.
Rumusan masalah
dalam penelitian ini adalah “adakah pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe
TGT (Team Games Tournament) terhadap
prestasi belajar fisika siswa kelas VIII SMPN 1 Sakra tahun pelajaran
2012/2013?” Sedangkan tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah
“untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe TGT (Team Games Tournament) terhadap prestasi
belajar fisika siswa kelas VIII SMPN 1 Sakra tahun pelajaran 2012/2013”.
Fisika
merupakan bagian dari IPA yang menguraikan dengan menganalisis struktur
peristiwa alam. Fisika dibangun atas dasar fakta atau kenyataan alam kemudian
diteliti dan dipelajari dengan cara yang sesederhana mungkin yang akan
menghasilkan aturan-aturan dan hukum-hukum.
Pembelajaran
kooperatif (Slavin 1995: 73) merupakan strategi pembelajaran yang mendorong
siswa bekerja sebagai sebuah tim untuk menyelesaikan sebuah masalah,
menyelesaikan suatu tugas atau mengerjakan sesuatu untuk mencapai tujuan
bersama lainnya
Teams-Games-Tournament
(TGT), pada mulanya dikembangkan oleh David DeVries dan Keith Edwards, ini
merupakan metode pembelajaran pertama dari Johns Hopkins. Dalam metode ini,
para siswa dibagi dalam tim belajar yang terdiri atas empat sampai lima orang
yang berbeda-beda tingkat kemampuan, jenis kelamin, dan latar belakang etniknya.
Guru menyampaikan pelajaran, lalu siswa bekerja dalam tim mereka untuk
memastikan bahwa semua anggota tim telah menguasai pelajaran. Selanjutnya
diadakan turnamen, di mana siswa memainkan game akademik dengan anggota tim
lain untuk menyumbangkan poin bagi skor timnya. TGT menambahkan dimensi
kegembiraan yang diperoleh dari penggunaan permainan. Teman satu tim akan
saling membantu dalam mempersiapkan diri untuk permainan dengan mempelajari
lembar kegiatan dan menjelaskan masalah-masalah satu sama lain, memastikan
telah terjadi tanggung jawab individual (Robert E. Slavin, 2008: 13).
METODE PENELITIAN
Populasi dalam
penelitian ini adalah siswa kelas VIII SMPN 1 Sakra Tahun Pelajaran 2012/2013
yang terdiri dari rombongan belajar.
Penelitian dilakukan terhadap sampel dengan tehnik sampling yang digunakan
adalah Cluster Random Sampling,
sedangkan sampel yang didapat adalah dua rombongan belajar(kelas) yaitu kelas VIII.B dan kelas VIII.I yang
berjumlah 65 siswa.
Penelitian
ini termasuk penelitian
eksperimen karena pada penelitian ini, data yang akan diperoleh berbentuk angka. Pada penelitian
terdapat kelompok eksperimen dan kelompok kotrol dan penelitian ini mengambil
satu akibat sebagai
variabel terikat dan
satu penyebab sebagai
satu variabel bebasnya.
Dilihat
dari variabelnya, maka penelitian ini dikategorikan sebagai penelitian eksperimen jenis quasi experiment dengan desain post-test only control. Variabel
penelitian pada penelitian ini variable bebasnya adalah model pembelajaran
kooperatif tipe TGT dan variable terikatnya adalah prestasi belajar fisika.
Teknik pengumpulan data
yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes, yaitu kemampuan menyelesaikan
soal-soal baik yang diajarkan dengan metode pembelajaran kooperatif TGT maupun dengan metode konvensional, dan
bentuk tes yang digunakan adalah tes objektif (multiple choice).
HASIL PENELITIAN
Interprestasi hasil analisis (dengan taraf signifikan = 5%)
1.
Table
Data hasil posttest
Table 1. Data Hasil Posttest
Kelas
|
Jumlah Siswa
|
Nilai Tertinggi
|
Nilai Terendah
|
Mean
(
|
Standar Deviasi (SD)
|
Eksperimen
|
30
|
96
|
52
|
77
|
12,13
|
Kontrol
|
35
|
96
|
40
|
67,07
|
12,91
|
2.
Table
Uji Normalitas
Table 2. UJi Normalitas
Kelas
|
χ2hitung
|
χ 2tabel
|
Kriteria
|
Eksperimen
|
3,301
|
9,483
|
Terdistribusi
normal
|
Kontrol
|
3,32
|
11,070
|
Terdistribusi
normal
|
3.
Berdasarkan data hasil perhitungan dipeoleh:F hitung = 1,13 dan F tabel = 1,85
jadi F hitung < F tabel. Dari data yang diperoleh : data homogen
jadi F hitung < F tabel. Dari data yang diperoleh : data homogen
4.
Uji
hipotesis yang di gunakan adalah dengan uji-t. berdasarkan analisis data
didapat thiutng
sebesar 3,49 sedangkan nilai ttabel pada derajat kebebasan n1 +
n2 - 2 = 30 + 35 = 63 diperoleh nilai sebesar 1,999. Karna thitung > tTabel maka Ho ditolak dan Ha
diterima. Artinya terdapat perbedaan prestasi siswa kelas eksperimen dengan
siswa kelas kontrol, sehingga model pembelajaran kooperatif tipe Team Game Tournament (TGT) berpengaruh terhadap
prestasi belajar fisika kelas VIII SMPN 1 Sakra tahun pelajaran 2012/2013”.
PEMBAHASAN
Berdasarkan
hasil perhitungan analisis data yang sudah dilakukan diperoleh thiutng sebesar
3,49 sedangkan nilai ttabel diperoleh nilai sebesar 1,999. Kriteria
pengujian adalah jika thitung >
tTabel maka Ho
ditolak dan Ha diterima artinya “terdapat pengaruh model
pembelajaran kooperatif tipe Team Game
Tournament (TGT) terhadap prestasi belajar fisika kelas VIII SMPN 1 Sakra
tahun pelajaran 2012/2013”.
Dari hasil
penelitian dan berdasarkan analisis data yang telah dilakukan menunjukkan bahwa
terdapat pengaruh prestasi belajar siswa menggunakan metode kooperatif tipe Team Game Tournament (TGT) dibandingkan
dengan metode konvensional. Hal ini dapat dilihat setelah melakukan uji
hipotesis dengan rumus t-test terhadap
data yang didapatkan setelah melakukan postest pada materi alat-alat optik yang
diajarkan dengan menggunakan metode pembelajaran kooperatif tipe Team Game Tournament (TGT).
Team Game
Tournament (TGT) merupakan salah satu tipe
pembelajaran kooperatif yang menekankan pada adanya aktivitas dan interaksi
diantara siswa untuk saling memotivasi dan saling membantu dalam menguasai
materi pelajaran guna mencapai prestasi yang maksimal. Pada model Team Game Tournament (TGT) siswa diberikan kesempatan untuk
berkomunikasi dan berinteraksi sosial dengan temannya untuk mencapai tujuan
pembelajaran, sementara guru bertindak sebagai motivator dan fasilitator
aktivitas siswa. Artinya dalam pembelajaran ini kegiatanPiaget yang menyatakan pengetahuan fisik dan pengetahuan logika
matematika harus dibangun sendiri oleh anak, sedangkan pengetahuan sikap dan
tingkah dapat dipindahkan dari pikiran guru ke pikiran siswa. Pendekatan
ini bertolak belakang dari pandangan bahwa siswa sebagai subjek dan objek dalam
belajar, mempunyai kemampuan dasar untuk berkembang secara optimal sesuai
dengan kemampuan yang dimilikinya. Proses belajar dipandang sebagai stimulus
yang dapat menantang siswa untuk melakukan kegiatan belajar. Peranan guru lebih
banyak menempatkan diri sebagai pembimbing atau
pemimpin belajar dan fasilitator belajar. Dengan demikian, siswa lebih
banyak melakukan kegiatan sendiri atau dalam bentuk kelompok memecahkan
permasalahan dengan bimbingan guru, sehingga secara signifikan dalam mencapai
keterampilan berpikir, pendekatan inquiri lebih efektif daripada metode
konvensional.
Pada proses
KBM dengan penggunaan metode Team Game
Tournament (TGT) siswa SMPN 1 Sakra lebih aktif, lebih antusias dan
bersemangat dalam belajar karena siswa dilibatkan langsung dalam proses
pembelajaran tersebut. Siswa bekerja sebagai sebuah tim untuk menyelesaikan
sebuah masalah, menyelesaikan suatu tugas atau mengerjakan sesuatu untuk
mencapai tujuan bersama lainnya. Di samping itu siswa berusaha memahami dan
menguasai materi yang sedang diajarkan dan selalu aktif ketika kerja kelompok,
sehingga saat ditunjuk guru untuk mempresentasikan jawabanya, meraka dapat
menyumbangkan skor untuk kelompoknya. Aktivitas ini sesuai dengan empat pilar
pendidikan universal seperti yang dirumuskan UNESCO poin pertama, yaitu Learning
to know atau learning to learn mengandung pengertian bahwa belajar
itu pada dasarnya tidak hanya berorientasi kepada produk atau hasil belajar,
akan tetapi juga harus berorientasi kepada proses belajar. Namun dengan metode
TGT ini ada saja siswa yang tidak mudah memahami atau mengerti langkah-langkah
kegiatan yang harus dilakukan dalam proses pembelajaran dengan metode TGT ini,
sehingga cenderung membutuhkan waktu yang banyak.
Metode Team Games Tournament (TGT) memiliki langkah-langkah pembelajaran
siswa harus berdiskusi. Melalui diskusi kecil dalam kelompok siswa saling
bertukar pikiran dalam memecahkan permasalahan yang mereka belum pahami. Ketika
siswa menerima pengetahuan dari teman mereka, maka setiap siswa akan berusaha
untuk menyimpulkan pengetahuan tersebut menjadi pengetahuan baru yang sesuai
dengan pemahaman mereka dan menjadi lebih bermakna. Hal ini sesuai sesuai
dengan teori konstruktivisme dalam buku Sardiman (2011:38) yang mengatakan
“belajar adalah kegiatan yang aktif dimana subjek membangun sendiri
pengetahuannya dan mencari sendiri makna dari sesuatu yang mereka pelajari”.
Setiap kelompok
memainkan game akademik yaitu cerdas cermat dengan kelompok lain untuk
menyumbangkan poin bagi skor kelompok atau timnya. Kegiatan ini merupakan
aplikasi hasil diskusi setiap kelompok. Pada waktu bermain game akademik setiap
anggota kelompok diberikan kesempatan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang
isinya relevan dan didesain oleh guru untuk menguji pengetahuan siswa dari
penyajian materi dan diskusi kelompok. Menjawab pertanyaan merupakan suatu
kegiatan yang melibatkan siswa secara aktif untuk menganalisis dan
mengeksplorasi gagasan tentang gejala-gejala yang ada. Langkah ini akan
menumbuhkembangkan kemampuan berpikir kritis siswa terhadap permasalahan yang
ditemukan dalam proses pembelajaran. Hal ini sesuai dengan empat pilar
pendidikan universal seperti yang dirumuskan UNESCO poin ke dua, yaitu Learning
to do. Learning to do mengandung pengertian bahwa belajar itu bukan
hanya sekedar mendengar dan melihat dengan tujuan akumulasi pengetahuan, tetapi
belajar untuk berbuat dengan tujuan akhir penguasaan kompetensi.
Berbeda halnya
dengan kelas yang penerapannya dengan menggunakan model pembelajaran
konvensional, siswa terlihat kurang tertarik dan kurang bersemangat dalam
belajar. Selain itu, siswa terlihat kurang aktif karena tidak ditemukan siswa
yang antusias bertanya tentang materi
pembelajaran. Penggunaan model pembelajaran konvensional guru lebih monoton.
Hal ini
mengakibatkan pengetahuan yang dimiliki siswa akan terbatas pada apa yang
diberikan guru. Dalam proses pembelajaran pun ditemukan beberapa siswa yang
mengobrol dengan teman sebangku dan ada pula siswa yang mengganggu temannya
sehingga proses belajar tidak efektif. Hal tersebut mengakibatkan siswa kurang
dapat menangkap dan menerima materi yang diajarkan, sehingga berpengaruh pada
hasil belajar yang kurang maksimal.
Sesuai dengan
hasil uji hipotesis yang telah disajikan di atas ternyata model pembelajaran
kooperatif tipe TGT berpengaruh terhadap prestasi belajar fisika siswa, artinya
hipotesis yang diajukan pada bab II didukung oleh data-data yang ada.
SIMPULAN DAN SARAN
Dari hasil
perhitungan analisis data yang telah dilakukan didapatkan thitung>ttabel
yaitu thitung = 3,49
sedangkan ttabel = 1,999. Kriteria pengujian adalah jika
thitung < tTabel maka Ho diterima dan Ha
ditolak. Artinya terdapat pengaruh penggunaan metode pembelajaran kooperatif
tipe Team Games Tournament (TGT) terhadap prestasi belajar fisika siswa kelas VIII SMPN 1 Sakra tahun Pelajaran 2012/2013 pada materi alat-alat optik diterima. Hal ini karena siswa dituntut
untuk benar-benar siap dalam menerima dan menjawab pertanyaan dari turnamen
akademik yang dimainkan seluruh siswa, selain itu model pembelajaran kooperatif
tipe Team Games Tournament (TGT)
membuat suasana di kelas menjadi seru dan menyenangkan sehingga siswa termotivasi
untuk belajar.
Berdasarkan hasil yang
diperoleh dari penelitian ini, diajukan beberapa saran sebagai berikut :
1. Bagi siswa disarankan supaya dalam proses
pembelajaran lebih serius dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya agar prestasi
belajar yang diperoleh optimal.
2. Bagi guru disarankan supaya lebih kreatif
dalam menciptakan maupun mengembangkan model, metode, maupun teknik mengajar
supaya siswa menjadi termotivasi dan aktif dalam belajar.
Bagi para pembaca yang ingin
menggunakan/menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Team Games Tournament (TGT) ini dalam penelitian maupun dalam proses
pembelajaran disekolah, agar mempersiapkan diri sebaik mungkin dari segala segi
supaya hasil yang diperoleh bisa optimal demi perbaikan dimasa mendatang.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad Zaelani, dkk. 2006. 1700 Bank Soal Bimbingan Pemantapan Fisika. Bandung:
Yrama Widya.
Aqib, Zaenal. 2002. Profesionalisme Guru Dalam Pembelajaran. Surabaya:Insan
Cendekia.
Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian. Jakarta:Pt. Asdi Mahasatya.
. 2010. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta:Bumi Aksara.
Istiyono, Edi. 2004. Sains Fisika. Klaten: Intan Pariwara.
Saeful
karim, dkk. 2008. Belajar IPA Membuka
Cakrawala Alam Sekitar 2. Jakarta : PT. Macanan Jaya Cemerlang
Slavin, Robert E. 2008. Cooperative leaning. Bandung: Nusa Media.
Sugiyono, 2007. Statistik Untuk Penelitian. Bandung:CV. Alfabeta.
, 2009. Metode
Penelitian Kuantitatif Kualitatif Dan R&D. Bandung:CV. Alfabeta
Sukidin, Dkk. 2007. Manajemen
Penelitian Tindakan Kelas. Surabaya:Insan Cendekia .
Sukriadi. 2012. Proposal Penelitian. Selong Lombok
Timur.
Tim penyusun. 2011. Simpati SMA. Surakarta :Grabadi.
Tsamarul
Hizbi, dkk. 2011. Panduan Penulisan Skripsi. Selong: STKIP HAMZANWADI Selong.
Wiranata, Indra. 2010. Skripsi Pendidiksn Fisika, (Online). (http://www.eprink.uns.ac.id,
diakses 2 April 2012)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar